gambar5

Jumat, 30 Desember 2011


gambar4


gambar 3


gambar2


gambar1


instal 3


instal 2



IMPLEMENTASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI

NAMA    : FITRIA KURNIAWATI

 KELAS   : 4 KA 17

NPM       : 10108836

 TUGAS  : SOFTSKILL


Implementasi Jaringan Komputer pada Kehidupan sehari-hari

Implementasi Jaringan Komputer dalam kehidupan sehari-sehari pada bidang-bidang tertentu:

A. Dunia Bisnis
    Di dalam dunia bisnis ini, jaringan komputer sangat dapat dirasakan oleh kalangan masyarakat karena dimana proses transaksi dapat berjalan dengan baik dan juga dapat memperluas jangkauan bisnis yang tidak dapat terjangkau oleh dunia nyata. selain itu, juga dapat mempercepat pendistribusian data, informasi untuk pengambilan keputusan, keamaan pun lebih terjamin, seperti penjualan barang secara online (e-commerce). Dapat meningkatkan komunikasi antar employees. Meningkatkan banyak perusahaan untuk melakukan kerjasama/ bisnis secara elektronis antar perusahaan. Dapat meningkatkan kegiatan bisnis perusahaan dengan consumers melalui internet, misal toko buku, airlines, perusahaan music dll.


B.Dunia Mobile
Pada dunia mobile, pengaplikasian mobile network menggunakan Jaringan komputer. Mobile network menggunakan teknologi tanpa kabel atau wireless, dimana udara yang menjadi media pengiriman datanya. Dalam hal ini biasanya user menggunakan wireless network. Sebagai “portable office” misalnya user menggunakan alat elektronik seperti HP untuk mengirim dan menerima telepon, faxes, elektronik mail dll. Jaringan komputer yang tidak menggunakan kabel disebut juga dengan istilah jaringan wireless yang semakin banyak dimanfaatkan oleh pengguna komputer. Hal ini disebabkan karena kemudahan dari sistem wireless yang semakin mengurangi pengunaan teknologi kabel (wire) sebagai media untuk melalukan komunikasi data.
Dengan hanya menggunakan sebuah laptop / notebook atau bahkan sebuah handphone yang memiliki fasilitas koneksi wireless, user tidak dipersulit lagi dengan kabel yang berbelit belit. Semua user dapat melakukan aktivitasnya seperti: browsing ke internet, membaca atau mengirimkan e-mail ke rekan-rekan bisnis, melakukan teleconference, koneksi ke jaringan Instant Messenger milik Yahoo, MSN, Google, dll.
Sistem komunikasi wireless-pun banyak dipasang pada fasilitas-fasilitas umum misalnya : hotel, café, mall, bandar udara, kampus, dll. Fasilitas sistem komunikasi dengan media wireless tersebut dikenal dengan istilah hotspot. 

C.Dunia Rumah/Home
Jaringan komputer dapat juga diterapkan di rumah. Beberapa tahun lalu membeli komputer hanya digunakan untuk word processing dan gaming. Tetapi dengan berkembangnya zaman, bahkan komputer di rumah rumah dapat dengan mudah mengakses internet menggunakan modem, dial-up, broadband, dll. Apabila kita mempunyai lebih dari satu komputer, kita bisa terhubung dengan internet melalui satu jaringan. Selain itu, Jaringan komputer dapat juga untuk meningkatnya koneksi internet berkecepatan tinggi di rumah, mempraktiskan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan di rumah, seperti membuat koneksi peer to peer untuk bermain game dengan keluarga.
Contohnya seperti di warnet atau rumah yang memiliki banyak kamar dan terdapat setiap komputer di dalamnya, Internet, TV Cable, RT/RW Net, serta Dunia Perbankan.


D.Dunia Perbankan
Dalam dunia perbankan, sangat jelas sekali fungsi jaringan komputer ini. Dengan adanya jaringan komputer, segala aktivitas perbankan baik itu simpan pinjam dan transaksi keuangan lainnya dapat berjalan dengan lancar. Adanya sistem yang canggih di dalam jaringan komputer perbankan menjamin keamanan dan kerahasiaan dari setiap nasabah.
Perkembangan teknologi informasi membuat para perusahaan mengubah strategi bisnis dengan menempatkan teknologi sebagai unsur utama dalam proses inovasi produk dan jasa. Seperti halnya pelayanan electronic transaction (e-banking) melalui ATM, phone banking dan Internet Banking misalnya, merupakan bentuk-bentuk baru dari pelayanan bank yang mengubah pelayanan transaksi manual menjadi pelayanan transaksi yang berdasarkan teknologi.
Dibawah ini, contoh-contoh dari implementasi tersebut yang lebih spesifik :
Adanya eBanking, Penggunaan ATM (Automatic Teller Machine) dalam aktivitas perbankan, Penggunaan Database di bank – bank, Sinkronisasi data – data pada Kantor Cabang dengan Kantor Pusat Bank.

sumber:http://qory-qorycahyapuspita.blogspot.com

            http://singkong77.blogspot.com/2011/02/implementasi-jaringan-komputer-pada.html

Minggu, 20 November 2011


NAMA    : FITRIA KURNIAWATI
KELAS  : 4 KA 17
NPM       : 10108836
TUGAS  : MANAJEMEN DATA TELEMATIKA


PENGERTIAN CLIENT-SERVER



Client/Server dapat diartikan sebagai kemampuan komputer untuk meminta layanan request data kepada komputer lain. Setiap instance dari komputer yang meminta layanan disebut sebagai client, sedangkan setiap instance yang menyediakan layanan disebut sebagai server. Data yang diminta oleh client dapat diambil dari database pada sisi server yang sering disebut database server, seperi misalnya MySQL, PostgreSQL, Oracle, atau SQL Server.

KARAKTERISTIK CLIENT-SERVER
Client dan Server merupakan item proses (logika) terpisah yang bekerja sama pada suatu jaringan komputer untuk mengerjakan suatu tugas:
-          Service : Menyediakan layanan terpisah yang berbeda
-     Shared resource : Server dapat melayani beberapa client pada saat yang sama dan mengatur pengaksesan resource .
-   Asymmetrical Protocol : antara client dan server merupakan hubungan one-to-many. Client memulai komunikasi dengan mengirim request ke server. Server menunggu permintaan dari client. Kondisi tersebut juga memungkinkan komunikasi callback.
-          Transparency Location : proses server dapat ditempatkan pada mesin yang sama atau terpisah dengan proses client. Client/server akan menyembunyikan lokasi server dari client.
-          Mix-and-match : tidak tergantung pada platform.
-        Message-based-exchange : antara client dan server berkomunikasi dengan mekanisme pertukaran message.
-          Encapsulation of service : message memberitahu server apa yang akan dikerjakan.
-          Scalability : sistem C/S dapat dimekarkan baik vertical maupun horizontal.
-      Integrity : kode dan data server diatur secara terpusat, sedangkan pada client tetap pada komputer tersendiri.
-          Characteristics of a client.

KEUNTUNGAN CLIENT-SERVER
-      Client-server mampu menciptakan aturan dan kewajiban komputasi secara terdistribusi.
-       Mudah dalam maintenance. Memungkinkan untuk mengganti, memperbaiki server tanpa mengganggu client.
-     Semua data disimpan di server Server dapat mengkontrol akses terhadap resources, hanya yang memiliki autorisasi saja.
-     Tempat penyimpanan terpusat, update data mudah. Pada peer-to-peer, update data sulit.
-          Mendukung banyak clients berbeda dan kemampuan yang berbeda pula.

KELEMAHAN CLIENT-SERVER
Traffic congestion on the network, jika banyak client mengakses ke server secara simultan, maka server akan overload. Berbeda dengan P2P network, dimana bandwidthnya meningkat jika banyak client merequest. Karena bandwidth berasal dari semua komputer yang terkoneksi kepadanya. Pada client-server, ada kemungkinan server fail. Pada P2P networks, resources biasanya didistribusikan ke beberapa node sehingga masih ada node yang dapat meresponse request.

 
ARSITEKTUR CLIENT/SERVER
*      Menggunakan LAN untuk mendukung jaringan PC.
*      Masing-masing PC memiliki penyimpan tersendiri.
*      Berbagi hardware atau software

ARSITEKTUR FILE SERVER
*      Model pertama Client/Server.
*      Semua pemrosesan dilakukan pada sisi workstation.
*      Satu atau beberapa server terhubungkan dalam jaringan.
*      Server bertindak sebagai file server.
*   File server bertindak sebagai pengelola file dan memungkinkan klien mengakses file tersebut.
*      Setiap klien dilengkapi DBMS tersendiri.
*      DBMS berinteraksi dengan data yang tersimpan dalam bentuk file pada server.
*      Aktivitas pada klien: Meminta data, dan Meminta penguncian data.
*      Tanggapan dari klien : Memberikan data.

BATASAN FILE SERVER
·       Beban jaringan tinggi karena tabel yang diminta akan diserahkan oleh file server ke klien melalui jaringan.
·        Setiap klien harus memasang DBMS sehingga mengurangi memori.
·     Klien harus mempunyai kemampuan proses tinggi untuk mendapatkan response time yang bagus.
·    Salinan DBMS pada setiap klien harus menjaga integritas databasse yang dipakai secara bersama-sama ð tanggung jawab diserahkan kepada programmer

ARSITEKTUR DATABASE SERVER
·    Klien bertanggung jawab dalam mengelola antar muka pemakai (mencakup logika penyajian data, logika pemrosesan data, logika aturan bisnis).
·       Database server bertanggung jawab pada penyimpana, pengaksesan, dan pemrosesan database.
·        Database serverlah yang dituntut memiliki kemampuan pemrosesan yang tinggi.
·        Beban jaringan menjadi berkurang.
·    Otentikasi pemakai, pemeriksaan integrasi, pemeliharaan data dictionary dilakukan pada database server.
·        Database server merupakan implementasi dari two-tier architecture.

APPLICATION ARCHITECTURES
* Two-tier architecture: Contoh – program klien menggunakan ODBC/JDBC untuk berkomunikasi dengan database 
* Three-tier architecture: Contoh aplikasi berbasis Web
Contoh Two-Tier Architecture :

*      Mengunci data dan memberikan statusnya


Arsitektur Three-Tier
Ø Melibatkan lapisan server yang lain selain lapisan database server
·        Beberapa Keuntungan Arsitektur Three-Tier 

Ø Keluwesan teknologi
·        Mudah untuk mengubah DBMS engine
·        Memungkinkan pula middle tier ke platform yang berbeda

Ø Biaya jangka panjang yang rendah
·   Prubahan-perubahan cukup dilakukan pada middle tier daripada pada aplikasi keseluruhan

Ø Keunggulan kompetitif
Kemampuan untuk bereaksi thd perubahan bisnis dengan cepat, dengan cara mengubah modul kode daripada mengubah keseluruhan aplikasi.

Aplikasi Web dapat dibagi menjadi 2 macam:
·        Web Statis dan Web Dinamis
Teknologi Web :
Ø Teknologi untuk membentuk aplikasi Web yang dinamis :
1. Teknologi pada sisi klien (client-side technology)
2. Teknologi pada sisi server (server-side technology)

Teknologi pada sisi Klien:
* Kontrol Active X
* Java applet
* Client-side script (JavaScript dan VBScript)
* DHTML (CSS / Cascading Style Sheets)

Teknologi pada sisi Server :
Ø CGI
Ø FastCGI
Ø Proprietary Web Server API (ISAPI dan NSAPI)
Ø Active Server Pages (ASP)
Ø Java Server Pages (JSP) dan Java Servlets
Ø Server-side JavaScript
Ø PHP

sumber :
Lukis Alam dan anton@ukdw.ac.id.
http://cocom90.wordpress.com/2010/11/10/manajemen-data-telematika/

Layanan Telematika

Rabu, 05 Oktober 2011



Nama : Fitria Kurniawati.
Kelas : 4 KA 17
NPM : 10108836




GAMBAR IMPLEMENTASI
PELAYANAN.


Pendahuluan
Berdasarkan Instruksi Pesiden Republik Indonesia (Inpres) nomor 6 tahun 2001. Pesatnya kemajuan teknologi telekomunikasi, media, dan informatika atau disingkat sebagai teknologi telematika serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah merubah pola dan cara kegiatan bisnis dilaksanakan di industri, perdagangan, dan pemerintah.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat informasi telah menjadi paradigma global yang dominan. Kemampuan untuk terlibat secara efektif dalam revolusi jaringan informasi akan menentukan masa depan kesejahteraan bangsa.

Berbagai keadaan menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu mendayagunakan potensi teknologi telematika secara baik, dan oleh karena itu Indonesia terancam "digital divide" yang semakin tertinggal terhadap negara-negara maju. Kesenjangan prasarana dan sarana telematika antara kota dan pedesaaan, juga memperlebar rurang perbedaan sehingga terjadi pula "digital divide" di dalam negara kita sendiri. Indonesia perlu melakukan terobosan agar dapat secara efektif mempercepat pendayagunaan teknologi telematika yang potensinya sangat besar itu,untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mempererat persatuan bangsa sebagai landasan yang kokoh bagi pembangunan secara berkelanjutan.
Di dalam hal ini pemerintah perlu secara proaktif dan dengan komitmen yang tinggi membangun kesadaran politik dan menumbuhkan komitmen nasional, membentuk lingkungan bisnis yang kompetitif, serta meningkatkan kesiapan masyarakat untuk mempercepat pengembangan dan pendayagunaan teknologi telematika secara sistematik.

Indonesia perlu menyambut komitmen dan inisiatif berbagai lembaga internasional, kelompok negara atau negara-negara lain secara sendiri-sendiri dalam meningkatkankerja sama yang lebih erat dalam penyediaan sumber daya pembiayaan, dukungan teknis, dan sumber daya lain untuk membantu Indonesia sebagai negara berkembang mengatasi "digital divide". Dengan kenyataan tersebut, pemerintah dengan ini menyatakan komitmen untuk melaksanakan kebijakan serta melakukan langkah-langkahdalam bentuk program aksi yang dapat secara nyata mengatasi "digital divide", dengan arah pengembangan sebagai yang dimaksud dalam isi kerangka kebijakan ini.

1. Layanan Telematika dibidang Informasi

Penggunaan teknologi telematika dan aliran informasi harus selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk pemberantasan kemiksinan dan kesenjangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, teknologi telematika juga harus diarahkan untuk menjembatani kesenjangan politik dan budaya serta meningkatkan keharmonisan di kalangan masyarakat Wartel dan Warnet memainkan peranan penting dalam masyarakat. Warung Telekomunikasi dan Warung Internet ini secara berkelanjutan memperluas jangkauan pelayanan telepon dan internet, baik di daerah kota maupun desa, bagi pelanggan yang tidak memiliki akses sendiri di tempat tinggal atau di tempat kerjanya. Oleh karena itu langkah-langkah lebih lanjut untuk mendorong pertumbuhan jangkauan dan kandungan informasi pelayanan publik, memperluas pelayanan kesehatan dan pendidikan, mengembangkan sentra-sentra pelayanan masyarakat perkotaan dan pedesaan, serta menyediakan layanan "e-commerce" bagi usaha kecil dan menengah, sangat diperlukan. Dengan demikian akan terbentuk Balai-balai Informasi. Untuk melayani lokasi-lokasi yang tidak terjangkau oleh masyarakat.

2. Layanan Telematika di bidang Keamanan.

Layanan telematika juga dimanfaatkan pada sector-sektor keamanan seperti yang sudah dijalankan oleh Polda Jatim yang memanfaatkan TI dalam rangka meningkatkan pelayanan keamanan terhadap masyarakat. Kira-kira sejak 2007 lalu, membuka layanan pengaduan atau laporan dari masyarakat melalui SMS dengan kode akses 1120. Selain itu juga telah dilaksanakan sistem online untuk pelayanan di bidang Lalu Lintas. Polda Jatim memiliki website di http://www.jatim.polri.go.id, untuk bisa melayani masyarakat melalui internet. Hingga kini masih terus dikembangkan agar dapat secara maksimal melayani masyarakat. Bahkan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polda Jatim sudah banyak memanfaatkan fasilitas website ini dan sangat bermanfaat dalam menangani kasus-kasus yang sedang terjadi dan lebih mudah dalam memantau setiap perkembangan kasus atau laporan, baik laporan dari masyarakat maupun laporan internal untuk Polda Jatim sendiri. Bukan hanya penanganan kasus kejahatan semata, tapi juga termasuk laporan terkait lalu lintas, intelijen, tindak pidana ringan (tipiring) di masyarakat, pengamanan untuk pemilu, termasuk laporan bencana alam. Masyarakat juga bisa menyampaikan uneg-uneg atau opini mengenai perilaku dan layanan dari aparat kepolisian melalui email atau website . Semoga saja daerah-daerah lainnya yang tersebar diseluruh Indonesia dapat memanfaatkan teknologi telematika seperti halnya Polda Jatim agar terciptanya negara Indonesia yang aman serta disiplin.
Indonesia perlu menciptakan suatu lingkungan legislasi dan peraturan perundang-undangan.Upaya ini mencakup perumusan produk-produk hukum baru di bidang telematika (cyber law) yang mengatur keabsahan dokumen elektronik, tanda tangan digital, pembayaran secara elektronik, otoritas sertifikasi, kerahasiaan, dan keamanan pemakai layanan pemakai layanan jaringan informasi. Di samping itu, diperlukan pula penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan yang telah ada, seperti mengatur HKI, perpajakan dan bea cukai, persaingan usaha, perlindungan konsumen, tindakan pidana, dan penyelesaian sengketa. Pembaruan perauran perundang-udangan tersebut dibutuhkan untuk memberikan arah yang jelas, transparan, objektif, tidak diskriminatif, proporsional, fleksibel, serta selaras dengan dunia internasional dan tidak bias pada teknologi tertentu. Pembaruan itu juga diperlukan untuk membentuk ketahanan dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kejahatan baru yang timbul sejalan dengan perkembangan telematika.

3. Layanan Context Aware dan Event-Based.

Di dalam ilmu komputer menyatakan bahwa perangkat komputer memiliki kepekaan dan dapat bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya berdasarkan informasi dan aturan-aturan tertentu yang tersimpan di dalam perangkat. Gagasan inilah yang diperkenalkan oleh Schilit pada tahun 1994 dengan istilah context-awareness. Context-awareness adalah kemampuan layanan network untuk mengetahui berbagai konteks, yaitu kumpulan parameter yang relevan dari pengguna (user) dan penggunaan network itu, serta memberikan layanan yang sesuai dengan parameter-parameter itu. Beberapa konteks yang dapat digunakan antara lain lokasi user, data dasar user, berbagai preferensi user, jenis dan kemampuan terminal yang digunakan user. Sebagai contoh : ketika seorang user sedang mengadakan rapat, maka context-aware mobile phone yang dimiliki user akan langsung menyimpulkan bahwa user sedang mengadakan rapat dan akan menolak seluruh panggilan telepon yang tidak penting. Dan untuk saat ini, konteks location awareness dan activity recognition yang merupakan bagian dari context-awareness menjadi pembahasan utama di bidang penelitian ilmu komputer. Tiga hal yang menjadi perhatian sistem context-aware menurut Albrecht Schmidt, yaitu:

  1. The acquisition of context.

Hal ini berkaitan dengan pemilihan konteks dan bagaimana cara memperoleh konteks yang diinginkan, sebagai contoh : pemilihan konteks lokasi, dengan penggunaan suatu sensor lokasi tertentu (misalnya: GPS) untuk melihat situasi atau posisi suatu lokasi tersebut.

  1. The abstraction and understanding of context.

Pemahaman terhadap bagaimana cara konteks yang dipilih berhubungan dengan kondisi nyata, bagaimana informasi yang dimiliki suatu konteks dapat membantu meningkatkan kinerja aplikasi, dan bagaimana tanggapan sistem dan cara kerja terhadap inputan dalam suatu konteks.

  1. Application behaviour based on the recognized context.

Terakhir, dua hal yang paling penting adalah bagaimana pengguna dapat memahami sistem dan tingkah lakunya yang sesuai dengan konteks yang dimilikinya serta bagaimana caranya memberikan kontrol penuh kepada pengguna terhadap sistem.

http://resty-pumpfh.blogspot.com/2009/12/layanan-telematika.html

http://fajarirawati.blogspot.com/2010/01/implementasi-pelayanan-telematika.html

Laporan

Rabu, 27 April 2011

nama: Fitria Kurniawati
kelas: 3 ka 17
npm : 10108836
tugas: b.indonesia

laporan kegiatan

Tema : Pemaparan Materi Reformasi Pengadaan Barang dan Jasa

Oleh : Ibu Ratnawati Tahir

Assalamu Alaikum Wr.Wb, selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semua. Pada kesempatan ini saya diberikan kepercayaan oleh panitia untuk membawakan materi ”Reformasi Pengadaan Barang dan Jasa”. Sebelum saya masuk pada inti topik materi ini, sekilas saya jelaskan “Bagaimana Cikal Bakal Reformasi Pengadaan Barang dan Jasa di Kabupaten Baru?”. Reformasi pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Barru muncul dengan adanya komitmen antara Bank Dunia dengan Pemerintah Daerah Sejak Pemerintah Daerah menyatakan diri ikut sebagai peserta Proyek USDRP. Proyek Urban Sector Development Reform Project (USDRP) meliputi dua cakupan, yakni investasi (Sub Proyek Pasar Pallanro, Pasar Mangkoso dan Pasar Pekkae) dan non investasi (Program reform). Kabupaten Barru dinyatakan diterima sebagai peserta USDRP ketika menyatakan kesiapannya untuk mereform diri di tubuh Pemerintah Daerah. Itulah sekilas project USDRP dan sekarang kita kembali ke topik materi Reformasi Pembaharuan Pengadaan Barang dan Jasa.

Tujuan Reformasi PBJ yaitu: (1) tercapainya profesionalisme dalam fungsi pengadaan dan berkurangnya persepsi masyarakat akan terjadinya tindak KKN dalam pengadaan, (2) berkurangnya keterlambatan/penundaan dalam proses pengadaan (3) peningkatan system informasi pengadaan, (3) melaksanakan audit internal Pemerintah Daerah untuk seluruh kegiatanpengadaan (4) melaksanakan analisis kecenderungan (trend) harga dan kualitas.

Substansi Reform PBJ yaitu: (1) pembaharuan kelembagaan, (2) pembaharuan regulasi, (3) peningkatan sistem informasi pengadaan, (4) perbaikan sistem pengendalian, audit dan sistem umpan balik (feed-back system), (5) pengembangan kapasitas jajaran staf yang terlibat dalam pengadaan barang dan jasa. Indikator keberhasilan pelaksanaan Reformasi Pengadaan Barang dan Jasa dapat kita lihat dari beberapa hal diantaranya; dari sisi profesionalisme dalam fungsi pengadaan indicator keberhasilannya adalah minimal dari PPK/PPTK panitia pengadaan dan staf Bawasda memiliki sertifikat pengadaan nasional, minimal 75% keluhan/sanggahan dalam pengadaan dapat diselesaikan secara efisien dan tepat waktu, mekanisme sanksi telah diterapkan dan terdapat dokumen lelang standar yang digunakan oleh seluruh SKPD. Indikator berikutnya adalah efisiensi dan ketepatan waktu dalam proses pengadaan, dapat dilihat dari informasi tentang lamanya waktu proses/tahap evaluasi penawaran dipublikasikan secara luas dan minimal 75% dari tahapan evaluasi penawaran dapat diselesaikan tepat waktu. Indikator selanjutnya adalah pelaksanaan audit internal kegiatan pengadaan, diukur dari dilakukannya audit internal Bawasda dan hasilnya dipublikasikan dalam laporan berkala audit Bawasda. Indikator terakhir adalah pelaksanaan analisis tren harga dan kualitas PBJ, yakni terdapatnya informasi tentang kecenderungan harga satuan pekerjaan fisik, harga barang dan kualitas pekerjaan fisik/ pengadaan barang dan dipublikasikan dalam bulletin pengadaan.

Pembaharuan kelembagaan sebagai berikut :

• Penunjukan PAU. Syarat : Anggota yang terlibat/berpartisipasi dalam PAU tidak boleh terlibat sebagai Panitia Pengadaan di SKPD lainnya, Revisi Perda tentang SOTK, untuk memasukkan fungsi PAU ke dalam salah satu Tupoksi Badan/Dinas/instansi teknis terkait lainnya di Pemda (PP 41/2007) Anggaran APBD untuk operasionalisasi PAU Tupoksi PAU adalah:

- melakukan kerjasama dengan LKPP;

- memimpin dan melakukan koordinasi pembaharuan pengadaan

- memberikan pelatihan tentang pengadaan barang dan jasa kepada SKPD lain

- mengawasi, memonitor dan melaporkan praktik-praktik PBJ

- mempublikasikan Buletin Pengadaan yang terbit Triwulanan

-Penyusunan dan pemeliharaan database pengaduan/sanggahan pengadaan dan pengaduan masyarakat, termasuk tindaklanjut penanganan penyelesaian beserta penerapan sanksinya.

- Melakukan analisis trend harga dan kualitas yang dihasilkan dari pengadaan barang/jasa konstruksi.

- mempublikasikan Buletin Pengadaan secara Triwulanan

pembaharuan Regulasi PBJ dapat kita lihat berikut ini :

Penerbitan SK/Peraturan Walikota/Bupati tentang Sistem dan Prosedur

Pelaksanaan Keppres No. 80 tahun 2003 dan peraturan perubahannya, dgn subtansi min. sbb:

– penggunaan dokumen lelang standar untuk pengadaan di daerah

– pemberlakuan mekanisme pencatatan dan penanganan keluhan/sanggahan

– pemberlakuan sanksi dan publikasi penerapan sanksi yang terkait dengan kecurangan / penyimpangan dalam pengadaan.

– menghilangkan sistem prakualifikasi untuk kontrak-kontrak kecil yang bernilai ≤ Rp. 50 Milyar dan melakukan sistem pasca kualifikasi;

– mencabut peraturan yang membatasi pelelangan hanya diperuntukkan bagi peserta yang terdaftar di wilayah yang bersangkutan, dan membuka informasi pelelangan seluas-luasnya untuk mendapatkan peserta yang berkualitas;

– staf yang terlibat dalam pengambilan keputusan / tindakan / monitoring pengadaan harus yang bersertifikat/terlatih termasuk PPK, panitia pengadaan dan juga staf Bawasda yang terlibat dalam audit pengadaan;

– Harus dipublikasikannya hasil evaluasi penawaran termasuk nama pemenang, nilai kontrak dan nama paket kegiatan

Peningkatan Sistem Informasi Pengadaan diantaranya; Publikasi Buletin Pengadaan dan Pengembangan e-procurement. Substansi Buletin Pengadaan yang terbit Triwulanan, minimal mencakup :

• daftar pemenang kontrak, nama pemenang, lingkup pekerjaan dan nilai kontrak;

• rencana pengadaan untuk tiap unit kerja/SKPD

• daftar lamanya waktu untuk proses evaluasi penawaran untuk setiap paket kontrak dibandingkan dengan perioda validitas penawaran;

• laporan kemajuan proyek untuk seluruh proyek

• daftar status penanganan keluhan/sanggahan dan sanksi yang dikenakan.

• Harga satuan dan trend harga satuan yan telah termonitor, dan trend dari komponen-komponen utama kontrak pekerjaan konstruksi dan pengadaan barang;

• Daftar kontrak untuk pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan kualitas barang/jasa/ pekerjaan konstruksi yang dihasilkan, khususnya untuk tahun fiskal yang yang sedang berjalan

• Hasil survey tahunan terhadap rekanan & masyarakat

Perbaikan Sistem Pengendalian, Audit dan Sistem Umpan Balik dilakukan dengan: memonitor harga satuan dalam dokumen kontrak, pelibatan minimal satu orang perwakilan masyarakat dalam proses evaluasi penawaran, mengurangi keterlambatan dalam proses pengadaan, melakukan survey tahunan terhadap rekanan & masyarakat, serta Pemberdayaan Bawasda. Pengembangan Kapasitas Jajaran Staf yang Terlibat dalam PBJ dilakukan dengan mengkaji kebutuhan pelatihan bagi stafnya dan pengembangan kelembagaan yang terlibat dalam pengambilan keputusan, audit dan perumusan kebijakan pengadaan, bekerjasama dengan LKPP untuk mengadopsi program pelatihan nasional untuk berbagai kelompok sasaran. Saya kira ini saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, sekian dan terima kasih.

Wassalamu alaikum wr.wb.

sumber: http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:TxNKAicxUnQJ:www.usdrp-indonesia.org/file /downloadContent/339.doc+laporan+kegiatan+acara&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgPiup-h7P4RA-VNTmchGeBp5-EUZ1VPumkWWsg24CJ9w0LICq13sGkRQbTy-Ueu1qGh27UJK5KaENliKUDP21oIFPipL6RVO6Xa9xRvQziS_KyjK_HtqYCaL-YvqHnxDc1dldx&sig=AHIEtbRlobcbZpLEasDosYNW_BaVN8TgSQ

pengetahuan

Kamis, 07 April 2011

Internet ke Interkoloni

Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.

Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.

Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.

Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.

Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini. [penjelasan lebih lanjut tentang tarian lebah, silakan baca: http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyingkap003.htm]

Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)

Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.

Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."

Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.

Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)

sumber:
http://www.harunyahya.com/indo/artikel/079.htm

Tugas jarkom

NAMA :FITRIA KURNIAWATI
KELAS : 3 KA 17
NPM : 10108836
TUGAS : JARINGAN KOMPUTER.


1. Tentukan Subnet 5 Network dengan menggunakan Net Id dan Host Id, tipe class C. Lengkap buat juga table dan design Jaringannya !

Jawab : 1. Untuk kali ini kita akan mencari subnet untuk 5 Network dengan
menggunakan Class C , adapun langkah awal yang perlu dilakukan adalah :

diket: Network = 5
2^(n-2) = 5
2^n = 7
n = 3

jadi , dalam hal ini terdapat 3 bit yang terbentuk dari 5 Network.

Setelah itu kita mulai perhitungan untuk menentukan subnettingnya :

Diket: ketentuan untuk Class C pada Net Id dan Host Id = (N.N.N.H) bearti (255.255.255.0), maka 3 bit=224.

3 bit N . N . N . H yaitu:
00000000.00000000.00000000.11100000


Nilai subnet dari 5 network yang sudah diketahui nilai biner hostnya , adapun 4 ketentuan – ketentuan yang berlaku diantaranya :
1.) Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). karena dalam hal ini pada class C host terakhir berjumlah 3 bit maka Jumlah Subnetnya adalah 2^3 = 8 subnet.

2.) Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 2^5– 2 = 30 host.

3.) Blok Subnet = 256 – 224 = 32 blok (224 di dapat dari nilai biner 1 pada oktet terakhir subnet mask). jadi Subnet berikutnya adalah :
32+32 = 64
64+32 = 96
96+32 = 128
128+ 32 = 160
160+32 = 192
192+32 = 224
Jadi subnet lengkapnya adalah 0,32, 64, 96,128,160,192,224.(perhitungan blok subnet berhenti sampai nilai 224 , hal ini dikarenakan nilai yang dicari sudah terpenuhi dalam artian , nilai sudah sesuai dengan nilai octet terakhir pada subnet mask) . lalu kemudian bagaimana dengan alamat Host dan Broadcast dari networknya.

4.) untuk alamat Host dan Broadcast kita dapat langsung mencarinya dengan mudah. dengan catatan nilai dari subnet masknya sudah diketahui. sehingga mudah bagi kita untuk menentukan Host dan Broadcastnya , adapun ketentuan untuk mencari nilai Host dan Broadcast adalah sbb:
- Host Pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan
- Broadcast (Batas akhir dari suatu subnet Id) adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya, lalu yang terakhir adalah nilai dari Host Terakhir, untuk Host Terakhir adalah 1 angka sebelum Broadcast.

Jadi Subnet untuk 5 Network dengan menggunakan perhitungan Class C akan di dapat 30 Host per subnet,dengan subnet – subnet sebagai berikut :

- Subnet 1 : 0
IP : 192.168.1.0 (00000000.00000000.00000000.00000000)
- Subnet 2 : 32

IP : 192.168.1.32 (0000000.00000000.00000000.00100000)
- Subnet 3 : 64
IP : 192.168.1.64 (0000000.00000000.00000000.01000000)
- Subnet 4 : 96

IP : 192.168.1.96 (0000000.00000000.00000000.01100000)
- Subnet 5 : 128
IP : 192.168.1.128 (000000.00000000.00000000.10000000)
- Subnet 6 : 160

IP : 192.168.1.160 (000000.00000000.00000000.10100000)
- Subnet 7 : 192
IP : 192.168.1.192 (000000.00000000.00000000.11000000)
- Subnet 8 : 224
IP : 192.168.1.224 (00000000.00000000.00000000.11100000)
KETERANGAN :

SUBNET:
0 sampai 31 => sebagai Subnet Awal
32 sampai 63
64 sampai 95
96 sampai 127
128 sampai 159
160 sampai 191
192 sampai 223
224 sampai 255 => sebagai Subnet Akhir

HOST:
Host disini berperan sebagai Host Valid yang nantinya akan digunakan sebagai IP Address pada masing - masing Sub Network (SubNet). Host terbagi menjadi 2 bagian yaitu Host Pertama dan Host Terakhir.
- Host Pertama terdiri dari IP :
192.168.1.1
192.168.1.33
192.168.1.65
192.168.1.97
192.168.1.129
192.168.1.161
192.168.1.193
192.168.1.225

- Host Terakhir terdiri dari IP :
192.168.1.30
192.168.1.62
192.168.1.94
192.168.1.126
192.168.1.158
192.168.1.190
192.168.1.222
192.168.1.255

BROADCAST :
Broadcast disini sebagai penanda Batas Akhir dari Subnet Id
- Broadcast terdiri dari :
192.168.1.31
192.168.1.63
192.168.1.95
192.168.1.127
192.168.1.159
192.168.1.191
192.168.1.223
192.168.1.256

DESIGN TAMPILAN




...:: SeLamaT daTang di bLog MpiT ::... Copyright © 2009 Designed by Ipietoon Blogger Template for Bie Blogger Template Vector by DaPino